Friday, July 1, 2011

Untuk Keluarga di Gondangdia

Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo 

 Sumber: Kompas, Edisi 02/23/2003 

                       BARU kemarin saya melihat lelaki itu di kedai Nam Khe, duduk di kursi yang sama menghadap meja yang sama pula. Pas buat dua orang. Wajahnya nampak selalu gelisah, berkali-kali melempar pandang ke Zeedijk--sebuah jalan kecil di depan kedai yang selalu ramai dilewati orang-orang yang lalu-lalang datang dari atau ke arah Damrak. 
                      Saya dan Hargo teman sekamar saya di hotel, baru saja jalan-jalan keluar-masuk toko souvenir yang banyak terdapat di pusat pertokoan Kota Amsterdam. Sampai kaki terasa capek belum juga sahabat saya itu tertarik buat membeli souvenir yang agak pantas untuk Nunik, adik kandungnya, yang sudah seminggu di Belanda dan besok pagi akan terbang pulang ke Jakarta. Nunik dan suaminya hari itu ingin jalan-jalan sendirian, tanpa saya maupun kangmasnya. Kami mengerti maksud Nunik. Suaminya ingin beli arloji yang kemarin dilihatnya di etalase sebuah toko mewah, dan dia merasa sungkan jika kami ikut mengantarnya, karena harga arloji itu memang tak terbayangkan.SEMBILAN ribu US-Dolar, Pri! Bayangkan, sepuluh bulan gaji saya!" kata sahabat saya."Jangan ukur gaji sampean atau gaji saya. Tak ada amput-amputnya!" sahut saya."Titipan Ibu Gubernur," kata Nunik.Titipan jendral kek, presiden kek, itu urusan ipar sampean, batin saya. Hargo tidak terlalu percaya pada adiknya. Dia lebih percaya, arloji itu akan dibeli buat upeti, bukan titipan biasa seperti kata Nunik. Sebab, menurut sahabat saya, hierarki dan kepangkatan dalam tatanan feodal yang kian disemarakkan di Tanah Air, nampaknya telah menjadi lestari dilengkapi adat asok upeti. Tetapi itu bukan urusan saya saat sekarang. Urusan saya yang mendesak cuma segera mengisi perut. Sudah waktunya injeksi insulin, lantas makan siang di Nam Khe, kedai murah di ujung Zeedijk. Beberapa kali kami pernah makan di sana. 
                 Kali ini kami menghindari lorong-lorong kumuh yang membuat bulu kuduk kontan berdiri bila berpapasan dengan kaum gelandangan pengisap ganja di kanan-kiri etalase yang dipenuhi benda-benda erotika. Selain itu kami tak sampai hati melihat wanita-wanita yang terang-terangan dijajakan di balik kaca dalam pakaian mini sekali, seolah mereka tak lebih berharga dari barang dagangan. Kami memilih jalan yang lebih sopan dari arah stasiun sentral, melangkah cepat-cepat karena tidak boleh terlambat. Sahabat saya tak punya pilihan lain kecuali ikut memenuhi disiplin jam makan saya. Di Nam Khe, saya segera membeset meja yang baru saja kosong. Belum lagi kami selesai membaca daftar menu, tiba-tiba saya melihat wajah itu lagi, duduk sendirian menghadap meja yang itu juga: pas buat dua orang. Dengan aling-aling selembar koran yang agaknya hanya pura-pura dia baca, dia berkali- kali mencuri pandang ke arah sahabat saya dan kadang juga ke arah saya. Agaknya pun berpikir, kemarin telah melihat kami berdua di Nam Khe.Wajah lelaki itu nampak gelisah seperti sedang menanti seseorang yang sewaktu-waktu melintas di depan kedai. Saya yakin dia memang sedang menunggu seseorang, sebab beberapa kali saya lihat dia menolak orang yang bermaksud duduk semeja dengannya. Dugaan saya benar. Beberapa menit kemudian orang yang ditunggunya nampak memasuki pintu kedai, langsung duduk di depannya. Seorang perempuan berbaju ungu dengan gambar kembang teratai potongan gaya Shanghai, berkerah tutup, kancing-kancing dadanya berbentuk pilin-pilin kain yang melintang seperti anak-tangga. Dengan rok ketat biru tua yang nampak agak mengkilat dan terbelah di dua sisi lututnya, perempuan itu mengingatkan saya pada Han Shu Yin-pengarang Birdless Summer yang bukunya hampir selesai saya baca di hotel. Saya sangat berminat membacanya karena terkenang filmnya: Love Is A Many Splendoured Thing yang dibintangi Jenniver Jones dan William Holden tahun-tahun 60-an.Di tengah-tengah denting suara wajan juru masak di dapur serta lagu-lagu musik Tionghoa yang nadanya tinggi sekali, kami tak bisa menangkap kalimat-kalimat mereka. Saya ingin mendengarnya, apakah mereka ngomong Belanda atau Indonesia. Sahabat saya melirik ke wajah itu sambil berlatih menjepit shomai yang sedang dipesannya."Sekarang dia menengok ke sini, Pri. Beberapa kali sudah.""Yang mana? Laki-laki itu atau temannya?""Dua-duanya. Mereka berkali-kali menatap ke sini lantas bercakap-cakap, mungkin sedang ngrasani kita."Saya tidak peduli. Saya perlu makan sekarang sebelum gula saya melorot dihanyut insulin yang baru saja saya suntikkan ke perut di ruang toilet. Nasi goreng dan khulaoro ikan yang saya pesan sudah tersaji di meja. Tinggal menyantapnya. Namun sialan, tiba-tiba si Baju Shanghai sudah berdiri di dekat sahabat saya."Maafkan, Bapak dari Kedutaan, ya?" kalimatnya sangat sopan.Nah, ini baru kehormatan namanya, pikir saya. Kehormatan besar buat Hargo. Mungkin sahabat saya itu dikira Pak Duta dan saya Atase Militernya. Tapi mana ada orang Kedutaan nongkrong di kedai Nam Khe, kalau bukan jongosnya! Hargo terkejut, perempuan yang semula disangkanya Tionghoa tulen, tiba-tiba menyapa dalam bahasa Indonesia. Ia belum menjawabnya ketika si Baju Shanghai berkata lagi."Saya melihat Bapak di Kedutaan di Den Haag kemarin. Saya mengurus visa di sana.""Oh, ya? Tapi saya bukan orang Kedutaan. Saya cuma mengantar saudara saya ke sana, bertemu dengan Pak Duta, tapi tak melihat Anda.""Pakaian saya tidak begini, Pak. Mana Bapak bisa mengenal saya lagi? Waktu itu saya bersama adik saya. Itu dia," kata si Baju Shanghai sambil menunjuk lelaki yang semeja dengannya.Lelaki yang dia tunjuk dengan sendirinya mengangguk, lalu berdiri dan buru-buru melangkah menuju ke meja kami. Jarang saya temui orang-orang setanah air di Belanda, punya hasrat saling menyapa kalau tidak saling kenal. Saya pun selalu bersikap begitu, kecuali sangat perlu. Dan itu sering keliru, yang saya sapa ternyata orang Filipina atau Kamboja, mereka sering belanja di toko Makro beli bumbu dan penganan Asia seperti kebanyakan warga komunitas kami. Dan sekarang mereka ini, lelaki dan perempuan berbaju Shanghai ini, tidak keliru. Kami adalah orang-orang setanah airnya. Layak ditegur-sapa."Bapak besok pagi naik Garuda ya?" pertanyaan lelaki itu tertuju kepada Hargo."O, tidak," jawab sahabat saya. "Yang akan pulang naik Garuda itu adik saya dan suaminya. Tapi dari mana Anda tahu?""Saya tanya sekretaris Kedutaan. Bapak menginap di mana?""Kami mengantar mereka, nginap di Hotel Dorin.""Wuah, mahal, Pak. Semua hotel di Damrak mahal. Lain kali silakan singgah di rumah saya, tidak jauh dari sini. Jangan di hotel."Lelaki itu dengan sangat antusias memberi kami kartu nama. Saya kurang selera buat ganti memberi dia kartu nama. Bukan karena sombong dan tidak bersahabat, tapi karena kebiasaan untuk sangat berhati-hati terhadap siapa saja yang bukan teman. Saya lalu menuliskan nama dan alamat palsu rumah saya di notes dia. Hargo lain lagi. Dia tak pernah punya kartu nama, lantas menulis address dan nomor kamar kami di Hotel Dorin. Habis itu asyik sendiri ngobrol ini-itu dengan si Baju Shanghai. Sahabat saya memang jejaka, sukar menemukan pasangan. Saya bisa mengerti bila tiba-tiba jadi ramah di depan wanita secantik Han Shu-Yin yang sedang berdiri di sisi kursinya."Ayolah Zus," kata dia tiba-tiba. "Mari duduk bersama kami di sini."Mau bangkrut lu, batin saya. 
                 Kalau mereka benar-benar mau duduk bersama kami lantas makan bersama, siapa mesti bayar? Saya tahu Hargo hidupnya cukupan saja seperti saya, tak banyak punya duit, kerjanya juru kontrol kualitas kertas di pabrik kertas Zanders. Tapi mungkin kali ini dia sudah disangoni Nunik-adik kandungnya yang lebih mujur dan hidup makmur sebagai istri seorang wali kota di Tanah Air. Saya dan dia sekadar dompleng di Hotel Dorin atas tanggungan suami Nunik.Si Baju Shanghai dengan adiknya ternyata dengan gembira memenuhi harapan Hargo, pindah semeja bersama kami. Sahabat saya terpaksa menunda makan, menunggu pesanan mereka. Saya sendiri tak bisa menunggu. Kaki dan tangan saya sudah mulai semutan, merasa gula di darah saya kelewat rendah. Saya jadi kurang sopan, terus makan saja apa yang sudah saya pesan tanpa peduli percakapan mereka. Jika saya nekat menunda makan, saya akan pingsan. Itu Hargo tahu. Ketika saya selesai, mereka justru baru mulai. Nampaknya Hargo berlagak kaya, menawarkan ini-itu yang selamanya tak pernah ditujukan kepada saya. Saya diamkan saja jejaka itu yang kini jadi overacting."Selamat makan. Maafkan, saya keluar sebentar," kata saya. "Beli prangko...."Sebenarnya saya tidak memerlukan prangko. Terus terang harus saya akui, saya menghindari rekening Nam Khe. Jadi saya jalan-jalan sepanjang Zeedijk. Sekadar menghabiskan waktu, saya pun singgah di Wan Nam Hong, beli terasi dan bumbu pecal titipan istri. Baru balik ke Nam Khe ketika mereka selesai makan. Hargo bilang, saya harus berterima kasih kepada si Baju Shanghai, karena dia yang bayar rekeningnya. Saya tentu saja mengucap terima kasih, tapi dengan kecurigaan: apa kiranya yang tersembunyi di balik keramahan mereka itu.MALAM itu di Hotel Dorin si nona jaga ngebel telpon kamar kami. Hargo ketamuan. Si Baju Shanghai dengan adiknya! Sahabat saya cepat-cepat berdiri di depan cermin, menyisir rambut lalu keluar menuju lift. Lama sekali saya menunggu jejaka itu dengan penuh pengertian. Ketika balik ke kamar dia bawa sebuah titipan berbungkus karton."Untuk keluarganya di Gondangdia," katanya."Sembrono sampean Har!" saya menegurnya."Kenapa?""Sampean janji di Nam Khe tadi?""Alaaah, Priiii. Tak sampai setengah kilo. Nunik bisa bawa.""Sampean tahu isinya?"Hargo diam. Nampak bengong. Tentu tak tahu apa isinya. Semudah itu seorang jejaka memercayai wanita yang belum lagi sehari dikenalnya. Kebodohan yang kini sulit saya pahami."Kalau isinya ekstasi bagaimana!" gertak saya. "Hukuman berat jika ketahuan. Di Malaysia malah hukuman mati.""Jangan menakut-nakuti! Saya percaya dia. Dia beri kita kartu nama dan addressnya.""Sampean ini, Haaar! Itu bisa palsu!"Sungguh mati saya tidak menakut-nakuti. Saya ingat, di Kualalumpur tahun itu seorang turis Inggris divonis mati hanya karena kejebak bawa 250 gram ekstasi. Jika sial, karena sesuatu hal mungkin saja Garuda terpaksa mendarat di sana. Jangan nyesal jika Nunik dan suaminya lantas kena perkara. Sahabat saya nampak makin kebingungan. Saya pun tiba-tiba khawatir, jangan-jangan ada reserse Belanda yang tadi menguntit si Baju Shanghai lantas mendobrak pintu kamar kami."Buka saja bungkusnya," usul saya. "Terlalu riskan buat adik sampean. Kalau ternyata bukan barang larangan, kan bisa dibungkus lagi."Karena keraguan Hargo yang sangat menjengkelkan itu maka saya ambil pisau saku dan menoreh kertas bungkusnya. Karton itu saya buka."Isinya apa?" dia tak sabar."Alhamdulillah, Haaar. Ini bungkusan cocoknya buat saya!""Ah! Jangan mbanyol!""Bener lho. Insulin! Ada suratnya buat bapaknya."Huahaha! Huaha! Meledak-ledak ketawa sahabat saya. Saya tidak bisa ketawa. Malah ngenas, obat sepenting itu mesti didatangkan dari Belanda. Seolah semua pengidap diabetes seperti ayah si Baju Shanghai itu mesti tersungkur ke liang kubur bila impor obat-obatan terhalang kurs US-Dollar yang ketika itu melonjak hingga 15.000 rupiah.
               Titipan itu diserahkan pada Nunik waktu makan. Dia dan Pak wali kota suaminya tertawa saja mendengar cerita kangmasnya."Tak perlu khawatir," kata suami Nunik. "Saya tak pernah digeledah di bandara Jakarta.""Service Paspor, Mas!" kata istrinya.Makan bersama di Hotel Dorin malam itu sangat mewah. Saya sungkan pada suami Nunik, tapi tak bisa menahan selera. Husaren Sla, bumbu mirip semur, baunya saja pun sangat nyaman. Saya melahapnya. Selama hidup saya tak pernah menyantap makanan itu. Namanya pun baru dengar sekarang.Menjelang tidur saya ukur gula darah saya: 270 skala Akutren! Lebih dari dua kali ukuran normal. Memang terasa melonjak tinggi sekali. Paran, medio Desember 2002   

Waktu Nayla

Cerpen: Djenar Maesa Ayu 

 Sumber: Kompas, Edisi 03/31/2002 

                   NAYLA melirik arloji di tangan kanannya. Baru jam lima petang. Namun, langit begitu hitam. Matahari sudah lama tenggelam. Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram. Hatinya dirundung kecemasan. Apakah jam tangannya mati? Lalu jam berapa sebenarnya sekarang? Nayla memeriksa jam di mobilnya. Juga jam lima petang. Jam pada ponselnya pun menunjukkan jam lima petang. Ia memijit nomor satu nol tiga. Terdengar suara operator dari seberang, "Waktu menunjukkan pukul tujuh belas, nol menit, dan dua puluh tiga detik." Lalu manakah yang lebih benar. Penunjuk waktu atau gejala alam? Nayla menambah kecepatan laju mobilnya. Kemudi di tangannya terasa licin dan lembab akibat telapak tangannya yang mulai basah berkeringat. Ia harus menemukan seseorang untuk memberinya informasi waktu yang tepat. Tapi jika Nayla berhenti dan bertanya, berarti ia akan kehilangan waktu. Sementara masih begitu jauh jarak yang harus dilampaui untuk mencapai tujuan. Nayla sangat tidak ingin kehilangan waktu. Seperti juga ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal yang belum sempat ia kerjakan. 
               Namun Nayla pada akhirnya menyerah. Ia menepi dekat segerombolan anak-anak muda yang sedang nongkrong di depan warung rokok dan menanyakan jam kepada mereka. Tapi seperti yang sudah Nayla ramalkan sebelumnya, jawaban dari mereka adalah sama, jam lima petang. Hanya ada sedikit perbedaan pada menit. Ada yang mengatakan jam lima lewat lima, jam lima lewat tiga, dan jam lima lewat tujuh. Nayla semakin menyesal telah membuang waktu untuk sebuah pertanyaan konyol yang sudah ia yakini jawabannya, yaitu jam lima petang. Berarti benar ia masih punya banyak waktu. Sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah menjadi abu. ***
               ENTAH kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadanya yang berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran yang satu tahun lalu menyapanya dan mengulurkan persahabatan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah belati. Sebelumnya Nayla begitu akrab dengan waktu. Ketika cincin melingkar agung di jari manisnya. Ketika tendangan halus menghentak dinding perutnya. Menyusui. Memandikan bayi. Bercinta malam hari. Menyiapkan sarapan pagi-pagi sekali. Rekreasi. Mengantar anak ke sekolah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Memarahi pembantu. Membuka album foto yang berdebu. Mengiris wortel. Pergi ke dokter. 
              Menelepon teman-teman. Berdoa di dalam kegelapan. Doa syukur atas kehidupan yang nyaris sempurna. Kehidupan yang selama ini ia idam-idamkan. Kala itu, waktu adalah pelengkap, sebuah sarana. Mempermudah kegiatannya sehari-hari. Menuntunnya menjadi roda kebahagiaan keluarga. Mengingatkan kapan saatnya menabur bunga di makam orang tua, kakek, nenek dan leluhur. Membeli hadiah Natal, ulang tahun dan hari kasih sayang. Mengirim pesan sms kepada si pencari nafkah supaya tidak terlambat makan. Memperkirakan lauk apa yang lebih mudah dimasak supaya tidak terlambat menjemput anak di tempat les. Bercinta berdasarkan sistem kalender, kapan sperma baik untuk dimasukkan dan kapan lebih baik dikeluarkan di luar. Waktu bukanlah sesuatu yang patut diresahkan. Karena waktu yang berjalan, hanyalah roda yang berputar tiga ribu enam ratus detik kali dua puluh empat jam. 
             Gerakan mekanis rutinitas kehidupan. Menggelinding di atas jalan bebas hambatan. Sementara banyak yang sudah terlupakan. Suara mesin tik membahana dalam kamar yang lengang. Riuh rendah suara karyawan di kafetaria gedung perkantoran. Ngeceng di Plaza Senayan. Mengeluh bersama sahabat tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Menampar pipi laki-laki kurang ajar di diskotek. Menghapus air mata yang menitik. Melamun. Membaca stensilan. Makan nasi goreng kambing ramai-ramai dalam mobil di pinggir jalan. Masak Indomie rebus rasa kari ayam. Menatap matahari terbenam. Nonton Formula One atau Piala Dunia di Sports Bar. Menatap mata kekasih dengan berbinar-binar. Bersentuhan tangan ketika memasangkan celemek di paha kekasih dengan tangan bergetar. Menanti dering telepon dengan hati berdebar. Memilih kartu ucapan rindu yang tidak terlalu norak tanpa lebih dulu menunggu hari besar datang dengan dada berdebar. Memilih baju terbaik setiap ada janji dengan pacar dengan jantung berdebar. 
            Menanti pujian dengan rasa berdebar. Bercinta dengan rasa, jantung, dada, hati, tangan, kaki, payudara, vagina, leher, punggung, ketiak, mata, hidung, mulut, pipi, raga, berdebar. Yang terlupakan adalah waktu yang mengalir dalam lautan debar, samudera getar, cakrawala harapan. ***MUNGKIN Nayla tidak bermaksud dengan sengaja melupakan, ia hanya tidak sadar. Ia hanya pingsan keletihan dan belum jua siuman. Ia hanya terhipnotis bandul jam yang bergerak kiri kanan dan berdetak dalam keteraturan. Membuat raganya beku. Lidahnya kelu. Hatinya membatu. Imajinasinya buntu. Kadang dalam tidur imajinasinya memberontak terbang. Mengepakkan sayap bersama dengan burung-burung dan kupu-kupu. Mengendarai ikan paus di samudera lepas. Bungy jumping. Arung jeram. Baca komik Petualangan Tintin. Minum teh di atas awan sambil diskusi tentang cerpen Anton Chekov dengan almarhum ayah dan bertanya mana yang lebih mahal antara berlian dengan Fancy Diamond kepada almarhumah ibu. Menjadi Arnold Schwarzeneger dan menggagalkan aksi teroris yang hendak menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Menelan biji durian. Makan rambutan. Nonton Cirque du Soleil. Nonton N'SYNC dan dipanggil ke atas panggung untuk diberi kecupan oleh Justin Timberlake. Bertinju dengan Moehammad Ali. Mengalahkan Michael Jordan. Merebut suami Victoria Beckham. Mengedit karya Gabrielle Garcia Marques. Minum sirup markisa. Baca puisi bareng Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Diculik UFO. Punya toko buku kecil di Taman Ismail Marzuki. Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela. 
            Dan suara alarm jam ketika jarum panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan. ***MANUSIA sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan hukuman ini akan dilaksanakan. Karena itu Nayla tidak tahu mana yang lebih layak, merasa terancam atau bersyukur. Di satu sisi ia sudah tidak perlu lagi bertanya-tanya kapan eksekusi akan dilaksanakan. Tapi apakah setahun yang dokter maksudkan adalah 12 bulan, 52 minggu dan 365 hari dari sekarang? Bagaimana kalau satu tahun dimulai dari ketika kanker itu baru tumbuh. Atau satu minggu sebelum Nayla datang ke dokter. Atau mungkin benar-benar pada detik ketika dokter itu mengatakan satu tahun. Lalu berapa lamakah waktu sudah terbuang? Dari manakah Nayla harus mulai berhitung? Mata Nayla berkunang-kunang. Perutnya mulai terasa sakit seiring dengan bunyi dari segala bunyi jam, berdetak keras memekakkan telinganya. Satu, sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta detik mengejar dan mengepung pendengarannya ke mana pun Nayla melangkah. Memaksa mata Nayla menyaksikan lalu lalang kaki-kaki bergegas, suara klakson dari pengendara yang tak sabaran, lonceng tanda masuk sekolah, jutaan tangan karyawan memasukkan kartu ke dalam mesin absen, aksi dorong mendorong masuk ke dalam bus, tubuh-tubuh meringkuk di atas atap kereta api, semua orang tidak mau ketinggalan. Semua orang harus tepat waktu sampai di tujuan. Semua orang tidak lagi punya kesempatan, untuk sekadar berhenti memandang embun sebelum menitik ke tanah. Matahari yang bersinar tidak terlalu cerah. Awan berbentuk mutiara, semar atau gajah. Kelopak bunga mulai merekah. Kaki anjing pincang sebelah. Semut terinjak-injak hingga lebur dengan tanah. Padi menguning di sawah. Burung bercinta di atas rumah. Semua orang melangkah bagai tidak menjejak tanah. Sejak saat itu, alarm Nayla tidak pernah berhenti berbunyi. 
          ***NAYLA ingin menunda waktu. Nayla ingin mengulur siang hingga tidak kunjung tiba malam. Nayla ingin merampas bulan supaya matahari selalu bersinar. Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam hingga suara alarmnya bungkam. Nayla ingin menunda kematian. Tapi Nayla selalu terlambat. Nayla selalu berada di pihak yang lemah dan kalah akan rutinitas yang tak mau menyerah. Dan ia mulai merasa kewajibannya sebagai beban. Ia mulai cemburu pada orang-orang yang masih dapat berjalan santai sambil berpegangan tangan. Atau orang-orang yang berjemur di tepi kolam renang sambil membaca koran. Ketika, ia tergesa-gesa menyiapkan air hangat, sarapan dan seragam. Berdesakan di antara hiruk pikuk suara dan keringat dalam pasar. Memastikan pendingin ruangan belum saatnya dibersihkan. Membayar iuran telepon dan listrik bulanan. Memberi makan ikan. Memberi peringatan berkali-kali pada pembantu yang tidak juga mengerjakan perintah yang sudah diinstruksikan. Mengikuti senam seks dan kebugaran. Menjadi pendengar yang baik bagi suami yang berkeluh-kesah tentang pekerjaan. Memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dalam sebulan. Menyimpan kekecewaan ketika anak sudah tidak lagi mau mengikuti nasihat yang seharusnya diindahkan. Dan masih saja ada yang kurang. Masih ada saja yang tidak sempurna. Sarang laba-laba di atas plafon. Terlalu banyak menggunakan jasa telepon. Buah dada yang mulai mengendur. Vagina yang tidak lagi lentur. Terlalu letih hingga tidur mendengkur. 
             Seragam sekolah yang luntur. Kurang becus mengatur keuangan. Terlalu banyak pemborosan. Kurang peka. Kurang perhatian. Kurang waktu.... Waktu... Waktu... Waktu... Waktu...................? Bahkan Nayla merasa sudah tidak punya waktu untuk sekadar memanjakan perasaan. Tidak nongkrong bersama teman-teman. Tidak belanja perhiasan. Tidak pergi ke klab malam. Tidak dalam sehari membaca buku lebih dari dua puluh halaman. Tidak lagi nonton film layar lebar di studio twenty one. Tidak lagi mengerjakan segala sesuatu yang baginya dulu merupakan kesenangan. Nayla mulai merasakan dadanya berdebar. Semangatnya bergetar. Ia ingin menampar suaminya jika membela anaknya yang kurang ajar. Ia ingin ngebut tanpa mengenakan sabuk pengaman. Ia ingin bersendawa keras-keras di depan mertua dan ipar-ipar. Ia ingin berjemur di tepi pantai dengan tubuh telanjang. Ia ingin mengatakan ia senang bercinta dengan posisi dari belakang. Ia ingin mewarnai rambutnya bak Dennis Rodman. Ia ingin berhenti minum jamu susut perut dan sari rapet. Ia ingin memelihara anjing, kucing, babi, penguin, panda dan beruang masing-masing satu pasang. Ia ingin makan soto betawi sekaligus dua mangkok besar. Ia ingin berhenti hanya makan sayur dan buah-buahan waktu malam. 
               ***APA yang sedang mengkhianati dirinya hingga ia merasa sama sekali tidak bersalah atas debaran di dadanya yang begitu memukau? Apa yang sedang memberi pengakuan sehingga ia merasa begitu lama membuang-buang waktu? Apakah hidup diberikan supaya manusia tidak punya pilihan selain berbuat baik? Dan mengapa pertanyaan ini baru datang ketika sang algojo waktu sudah mengulurkan tangan? Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tanki penuh bahan bakar. 
             Ketika sang pengendara sadar bahan bakarnya sudah mulai habis, ia baru mengambil keputusan perlu tidaknya pendingin digunakan, untuk memperpanjang perjalanan, untuk sampai ke tujuan yang diinginkan. Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu...***

Perjalanan Burung Gereja

 Cerpen: Andrei Platonov 

 Sumber: Kompas, Edisi 02/03/2002 

                SEORANG pemusik tua biasa bermain biola dekat sebuah patung Pushkin. Patung itu terletak di Moskwa. Patung yang keempat sisinya tertulis puisi dan dilapisi marmer pada tangganya itu bertempat di ujung Tverskoi Bulvar. Dengan menaiki tangga-tangga itu, pengamen tua menghadap ke bulevar ke arah jalan Nikitskie Vorota sambil menyentuh dawai-dawai biolanya. Di sekitar patung telah berkumpul anak-anak, orang-orang yang lewat, penjual-penjual majalah dan kios-kios sekitar, mereka semua terdiam menanti permainan musik.Di musim gugur terakhir Pak Tua memperhatikan tempat biolanya tergeletak di tanah seperti biasa, telah hinggap seekor burung gereja. Ia merasa bahwa burung itu belum tidur padahal sore sudah gelap. Si burung masuk sibuk dengan makanannya. Di sore lain, pemusik tua itu membuka kotak biolanya, dengan harapan jika datang burung yang kemarin, ia dapat memakan roti lunak yang terletak di dalam kotak tersebut. Sang burung tanpa kesulitan bertengger di atas roti di kotak dan dengan sibuknya mulai mematuk makanan yang telah tersedia. 
            Burung itu tampaknya sudah tua, sebagian besar bulunya telah beruban, dari waktu ke waktu ia dengan waspada menengok ke semua sisi, agar dengan pasti melihat musuh dan kawan, sementara pemusik memandanginya dengan penuh keheranan dengan mata hati-hati dan ingin tau. Pasti, burung gereja ini sudah sangat berumur atau menderita, karena ia memiliki otak yang sangat besar.Beberapa hari sang burung tidak kelihatan di bulevar, pada saat-saat ini, salju sudah mulai berguguran. Pak Tua, sebelum berangkat ke bulevar, setiap hari memotong kecil-kecil roti lunak dan hangat di kotak. Sudah lewat lima hari, tapi si burung tak juga hinggap berkunjung ke patung Pushkin. Violis tua, seperti sebelumnya menyediakan roti untuk burung gereja di kotak yang terbuka yang penuh dengan remah-remah roti. Namun perasaan pengamen itu sudah mulai tersiksa oleh menunggu, dan ia mulai melupakan si burung.Pak Tua harus melupakan banyak hal yang tak kembali dalam kehidupannya, ia berhenti meremukkan roti, hanya diletakkannya sepotong roti untuk di kotak, dan membiarkan tempat biola itu terbuka.
            Di kedalaman musim dingin mendekati tengah malam terlihat badai akan tiba. Pak Tua memainkan nomor terakhir Jalan Musim Dingin Schubert, dan bersiap pulang untuk beristirahat. Saat itu di antara angin dan salju, muncullah burung ubanan yang telah dikenalnya. Ia hinggap dengan cakarnya yang kurus di salju beku, lalu sedikit berputar sekitar kotak, yang ditiup angin kencang, tapi dengan acuh dan tanpa rasa takut terbang dan masuk ke kotak biola tersebut. Di situ burung gereja itu mulai mematuki roti, nyaris bersembunyi di kehangatan peti kecil yang empuk itu. Lama ia makan, mungkin setengah jam penuh. Badai salju hampir sepenuhnya menimbun sekitar kotak biola dengan salju, tapi sang burung tua masih asyik di dalam salju, sibuk dengan makanannya. Berarti ia mampu memakannya dalam waktu yang lama. Pak Tua mendekat ke kotak tersebut sambil membawa biola dan tangkai penggeseknya dan lama menunggu di antara angin, sampai sang burung keluar dari kotak biolanya itu. 
            Akhirnya si burung gereja keluar, membersihkan diri dalam gundukan salju kecil, sedikit berceloteh sesuatu dan berjalan pergi menuju tempatnya, tanpa keinginan terbang dalam dinginnya angin, agar tidak membuang tenaga sia-sia.Sore berikutnya, burung itu datang lagi ke patung Pushkin. Ia langsung menelusupkan diri ke kotak dan mengembat roti yang tersedia. Pak Tua mengintipnya dari ketinggian bawah patung, sambil memainkan musik dengan biolanya. Dari sana ada perasaan nyaman menelusupi hatinya. Sore itu cuaca tenang, kelihatannya lelah setelah guruh kemarin. Setelah makan, burung melesat tinggi dari boks dan menggumamkan lagu kecil di udara...Fajar tidak segera menyingsing, terjaga di kamarnya, si musisi-pensiunan mendengar nyanyi badai dari balik jendela. Salju beku dan keras telah menyebar cahaya sepanjang gang. Sementara kaca jendela masih malam, dalam kegelapan, berbaring hutan-hutan beku dan suara-suara dari negeri entah berantah.Pak Tua mengagumi permainan alam yang hidup itu, bahwa alam juga dahaga akan kebahagiaan yang lebih baik, seperti manusia, seperti musik.
            Hari ini terpaksa ia tak pergi bermain musik ke Tverskoi Bulvar, sebab badai akan datang, dan suara biola menjadi terlalu lemah karenanya. Biarpun begitu menjelang sore Pak Tua mengenakan juga mantelnya, membalut kepala dan lehernya dengan syal, meremukkan roti di kantung dan pergi keluar. Dengan susah payah, sesak nafas oleh kerasnya dingin dan angin, pemusik itu berjalan menyusuri gang menuju Tverskoi Bulvar. Sepi, hanya ranting-ranting pohon yang bergemeretak di Bulvar itu, dan cuma sesosok patung muram bergemerisik oleh salju yang beterbangan menimpanya. Pak Tua ingin menaruh gumpalan-gumpalan kecil roti di tangga patung, namun sadar bahwa itu percuma saja: badai sekejap akan menyapu roti itu dan salju akan menimbunnya. Walau begitu, ditaruhnya juga roti itu dan melihat bagaimana ia hilang di temaram badai.Si burung ubanan ternyata tak takut badai salju. 
            Hanya saja ia tak terbang ke Tverskoi Bulvar. Ia pergi ke sana berjalan kaki, karena di bawah sedikit lebih tenang dan bisa bersembunyi antara timbunan salju dan benda-benda lain sepanjang jalan.Si burung cermat mengamati semua daerah sekitar patung Pushkin dan bahkan sempat mengorek-ngorek dengan kakinya ke salju, tempat biasanya diletakkan kotak biola terbuka yang berisi roti. Beberapa kali ia mencoba terbang dari arah angin menuju tangga patung, untuk melihat apakah badai mengantar potongan-potongan roti atau biji-biji tua yang bisa ditangkap dan ditelan. Tapi badai langsung menyergap burung itu ketika ia keluar dari salju, dan mengenyahkannya sebelum sempat meraih ranting pohon atau tiang trem, dan seketika burung itu jatuh dan menyusup ke dalam salju untuk menghangatkan diri dan beristirahat. Si burung akhirnya mengurungkan harapannya atas makanan itu. Lebih dalam ia menggali lubang di salju, menyusutkan diri di dalamnya dan mulai mengantuk, hanya saja ia tidak kedinginan dan mati, dan badai satu saat berhenti. Ia tidur dengan tetap waspada dan penuh kepekaan mengamati gerak badai dalam tidurnya. 
            Antara mimpi dan malam yang ia merasai bahwa gundukan salju tempatnya tidur bergerak perlahan membawanya, sampai semua salju di sekitarnya mencair dan hilang, dan burung gereja menjadi sendirian dalam badai.Burung itu jauh terbawa dan terdampar pada ketinggian tertentu. Di sini bahkan salju pun tak ada, cuma angin bersih telanjang, keras oleh kekuatannya yang menyatu. Sang Burung sejenak berpikir lalu membenamkan diri dalam kehangatan tubuhnya dan tertidur...Pak Tua menyadari bahwa burung tua yang dikenalnya itu telah tewas akibat badai. Salju yang jatuh, hari-hari yang dingin dan angin sering kali tak mengizinkan Pak Tua untuk keluar ke Tverskoi Bulvar untuk memainkan biolanya. Hari-hari seperti itu biasanya ia di rumah, dan satu-satunya yang membuat hatinya tenang adalah dengan memandang kaca-kaca jendela yang membeku. Bulan Februari ia membeli seekor kura-kura kecil di sebuah toko binatang di Arbat. Suatu ketika pernah ia membaca bahwa kura-kura hidup lama, sebab Pak Tua tak ingin makhluk yang telah dekat dengan hatinya pergi mendahuluinya. Memang di usia senja jiwa tak gampang lupa, sering kali ia dibebani kenangan-kenangan. 
           Karenanya biarkan kura-kura yang menderita karena kepergiannya.Hidup bersama seekor kura-kura, membuat pemusik tua ini semakin jarang pergi ke patung Pushkin. Kini setiap sore ia memainkan biolanya di rumah, sementara kura-kura perlahan-lahan keluar ke tengah-tengah kamar, menggerak-gerakkan lehernya yang kurus dan panjang sambil mendengarkan musik. Ia menolehkan kepalanya sedikit ke arah manusia itu supaya bisa mendengarkan dengan lebih baik, sementara satu matanya yang hitam memandang ke arah pemusik itu dengan satu ungkapan yang pendek. Kura-kura itu mungkin saja khawatir kalau-kalau Pak Tua menghentikan permainannya sehingga ia kembali bosan hidup sendirian di lantai kosong. Tetapi kali ini pemusik tua ini memainkan musiknya hingga larut malam, sebelum kura-kura merebahkan kepalanya yang kecil ke lantai karena kelelahan dan tertidur. Setelah menunggu kura-kura benar-benar memejamkan matanya, Pak Tua diam-diam memasukkan biola ke dalam kotaknya dan ia pun merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Namun pemusik itu tak bisa tidur dengan tenang. 
           Sering kali ia terbangun dengan tiba-tiba dan dalam ketakutan akan kematian. Kemudian tampak seperti biasa saja, ia masih hidup, dan di balik jendela, di sebuah jalan kecil di Moskwa, malam yang hening masih berlalu. Pada bulan Maret, setelah terbangun dari kebekuan jiwa, Pak Tua mendengar sebuah gemuruh angin yang dahsyat; dinding kamar bergetar: angin, mungkin, berhembus dari selatan, dari arah musim semi. Dan lelaki tua itu teringat pada burung gereja dan bahwa yang dicintainya itu telah mati: sebentar lagi musim panas tiba dan di Tverskoi Bulvar kembali pepohon bermekaran, seandainya burung itu masih hidup. Dan di musim dingin ia pasti akan membawanya ke biliknya, dan burung itu pasti akan bersahabat dengan kura-kura dan dengan leluasa akan melewati musim dingin dalam kehangatan, seperti kita melewati masa pensiun. Pak Tua kembali terlelap, bertenang diri bahwa setidaknya ia masih punya seekor kura-kura yang hidup, dan itu cukup baginya.Sang burung juga tidur malam itu, walau ia juga melayang bersama angin badai selatan itu. Ia tersentak hanya ketika pukulan badai menghantam, dan ia lagi-lagi menenggelamkan diri dalam kehangatan tubuhnya, dengan cara mengkeratkan badannya.
           Ia terbangun ketika keadaan sudah terang; angin dengan kekuatan dahsyatnya telah membawanya ke negeri yang jauh. Burung itu memang tak takut terbang menyusuri ketinggian, ia bahkan bercanda-canda dalam lingkar badai yang keras dan jahat itu, berceloteh dalam dirinya sendiri ketika rasa lapar mulai menyambanginya. Dengan penuh kehati-hatian ia melihat sekitar, mencari benda-benda yang mungkin bisa dimakan. Dipandangnya dengan jeli: kadang-kadang hanya sebuah biji kecil yang ranum yang tampaknya dari suatu tempat yang hangat, kadang biji kacang, dan tak jauh darinya bahkan terbang segepok semak dan ranting. Ini mengisyaratkan bahwa angin tak membawanya sendirian. Sebuah biji kecil terbang dekat sekali, tapi untuk menangkapnya sangatlah sulit: burung itu beberapa kali mematuk, namun meraih biji itu tetap saja ia tak mampu, karena paruhnya seperti menyangga badai, yang keras seperti batu. Karenanya burung itu mulai berkisar ke sana ke mari seputar dirinya. Ia membalikkan diri dengan kaki-kaki kecilnya ke atas, melesat dengan satu sayap, dan angin langsung membawanya mula-mula ke arah biji yang terdekat, lalu dicobanya meraih yang lebih jauh. Tak hanya kenyang, ia juga belajar bagaimana cara melesatkan diri dalam badai. Selesai makan ia memutuskan untuk tidur. Sekarang ia merasakan diri lebih baik: makanan terbang di sekitarnya, sementara hawa dingin ataupun hangat di antara badai tak lagi dirasakannya.Kini setiap sore di musim semi pemain biola keluar untuk bermain musik di patung Pushkin. Ia membawa kura-kura bersama dan membiarkannya berdiam di dekat kakinya. 
           Selama musik dimainkan kura-kura itu sama sekali tak bergeming mendengarkan setiap gesekan biola, dan ketika Pak Tua beristirahat ia dengan sabar menanti kelanjutannya. Kotak biola seperti dulu, diletakkan di atas tanah di hadapan patung Pushkin, tapi tutup kotak itu kini selalu tertutup, karena pemusik tua itu tak lagi berpengharapan burung gereja ubanan datang menemuinya. Satu sore yang cerah angin berhembus disertai salju. Pemusik menyusupkan kura-kura ke rongga bajunya, meletakkan biola ke kotaknya dan bergegas menuju flatnya. Dua anak kecil berdiri di pintu gerbang sebuah rumah tinggal yang sudah tua, salah seorang berkata kepada pemusik itu:"Paman, belilah burung kami ini... Kami perlu untuk tambahan karcis bioskop!"Pemain biola itu berhenti."Baiklah," katanya, "darimana kalian mendapatkannya?""Di atas batu... Jatuh sendiri ia dari langit," jawab anak kecil dan menyerahkan burung itu dalam dua genggam tangannya kepada pemusik.Burung itu mungkin sudah mati. Pak Tua menaruhnya di sakunya, memberi anak itu dua puluh kopek dan pulang.
            Setibanya di rumah pemusik itu mengeluarkan burung kecil itu dari kantung sakunya. Seekor burung gereja tua ubanan tergolek di tangannya; matanya tertutup, kaki-kaki kecilnya lemah dan satu sayapnya menggantung tanpa daya. Tak tahu, apakah ia mati suri atau mati benar. Untuk berjaga-jaga Pak Tua meletakkannya di rongga dalam kemeja tidurnya, entah esok pagi ia menghangat dan siuman, entah ia takkan terbangun untuk selamanya.Setelah menghabiskan tehnya, pemusik itu dengan hati-hati merebahkan diri tidur miring, supaya tidak menggencet burung itu.Sesaat Pak Tua tertidur, tapi segera terbangun, ketika burung itu bergerak-gerak di balik baju tidurnya dan mematuk tubuh Pak Tua. "Hidup," pikir Pak Tua. "Berarti hatinya telah menjauh dari kematian!" Lalu dikeluarkannya burung gereja itu dari kehangatan di balik baju tidurnya.Pemusik itu meletakkan burung kecil itu di kolong dekat kura-kura. Sementara kura-kura masih pulas di dalam tempurungnya. 
            Di sekitar situ ada kapas-kapas yang empuk dan nyaman buat burung itu.Pagi hari Pak Tua terbangun dan melihat apa yang sedang dilakukan si burung di tempat kura-kura.Burung gereja itu tergeletak di atas kapas dengan kaki-kaki kecilnya menjulur ke atas, dan kura-kura mengulurkan lehernya, memandangi sang burung dengan tatapan penuh kasih dan kesabaran. Burung itu telah mati dan melupa untuk selamanya, bahwa pernah ada di dunia.Sore hari pemusik tua tak pergi ke Tverskoi Bulvar. Ia mengeluarkan biola dari kotaknya dan mulai memainkan musik yang lembut penuh cita. Kura-kura keluar ke tengah-tengah kamar dan mendengarkan sendirian. 
           Tapi dalam musik ada sesuatu yang tak tersampaikan untuk membalur kegetiran hatinya yang dalam. Karenanya diletakkannya biola di tempatnya dan menangis, karena tak semua bisa diungkapkan oleh musik, dan pada akhirnya tinggal manusialah yang merasai kehidupan dan penderitaan.** Andrei Platonov (1899-1951) yang nama aslinya Andrei Platonovich Klimentov adalah seorang sastrawan Rusia pada masa Soviet. Dalam karya-karyanya ia banyak menyoroti kehidupan manusia dan hubungannya dengan alam, kematian, dan keabadian. Karyanya yang termasyhur antara lain Chevengur dan Kotlovan. Sebagian besar karyanya diterbitkan ketika ia telah meninggal dunia. ***Cerpen Perjalanan Burung Gereja dialihbahasakan dari bahasa Rusia oleh A Fahrurodji. 

Permata Bernstein

 Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo 

 Sumber: Kompas, Edisi 11/10/2002 

            BARU pertama kali aku dan sahabatku, Alex, menginjakkan kaki di Irkutzsch-malam hari menjelang Natal tahun itu. Ilyushin tua yang mendaratkan kami di Siberia Timur ini landing-nya gentayangan, bikin punggung berdenyutan seperti kena mesin pijat yang disetel buat menggarap otot-urat yang nyeri-nyeri kena lumbalgi. Sejak turun dari pesawat RRC itu, Alex nampak sudah lemas dan capek. Belum lagi lima menit kami duduk di ruang-tunggu, seorang petugas sekuriti bandara itu mendatangi kami berdua yang baru saja meletakkan pantat di sebuah bangku sekadar istirahat duduk sambil menunggu jam berangkat Aerovlot jurusan Moskwa. Follow me please...," kata petugas itu kepadaku. WWW WAku spontan berdiri, memesan pada sahabatku agar menjaga mantel dan handbag besar bawaanku. "Take it with you," perintahnya tegas. Dia ngomong Inggris dengan perfek-bahasa rutin personal sekuriti bandara transit negara mana saja. Mendegup juga jantungku ketika itu. Bukan karena tas dan mantel mesti dibawa (dia tentu merasa perlu memeriksa barang-barang penumpang), tapi karena cuma aku yang disasar, Alex tidak, pasasir lain pun tidak. 
           Tentu ada sebabnya. Barangkali pakaianku, tampangku, atau gerak-gerikku mirip bajingan atau spion barat yang kasak-kusuk masuk ke daerah wewenangnya. Beberapa penumpang Jerman yang tadi kulihat berangkat sepesawat dari Beijing bersama kami nampak santai saja, duduk main kartu mengelilingi sebuah meja di bawah temaram neon ruangan yang agaknya dilanda tindakan penghematan. Ketika melewati kelompok itu, tiba-tiba kulihat di antara mereka seorang lelaki yang pernah beberapa kali melayani kami di kedutaan RDJ1. Spontan saja aku menyapa: "Gutenmorgen,...... Sind Sie auch hier?2" Dia tak menyahut, padahal kami saling pandang. Di luar dugaanku dia bersikap begitu. Wajahnya datar seperti tak punya minat menjawab tegur-sapaku. Tersenyum saja pun tidak. Pandangnya cepat kembali tertuju ke main kartu. Karena malu, aku pun agak klincutan menghindar dari mata si Jerman. 
            Tapi, aku yakin benar lelaki itu mengenalku, malah beberapa hari sebelumnya telah menjamu kami, Alex dan aku, minum teh dan makan kue di kantor kedutaannya ketika kami mengurus visa. Sebuah layanan berlebihan, namun bukan tanpa alasan. Ketika itu dia memancing-mancing, mengapa kami pergi ke barat, tak ingin tinggal di Jerman. Jerman Timur maksudnya. Bisa studi di sana jurusan apa saja, bahkan bisa minta Stipendium3. Dia juga tak lupa melampiaskan sindiran terhadap RRC: "Mereka dijangkiti ambisi negara besar." Alex menjawab dengan gaya jurnalisnya: "Belum sampai ke taraf Amerika. Tapi syarat mereka punya: tanahnya luas, industri galak, minyak banyak, ahli tak kurang, penduduk melimpah, tinggal satu rintangan saja...." "Rintangan apa menurut kalian?" tiba-tiba dia tertarik pada celoteh Alex, ingin mengorek informasi tangan pertama. "Pertentangan intern partai! Perjuangan klas dalam pimpinan tingkat atas...," jawab sahabatku agak menggebu. Terang saja jawaban itu memancing pembicaraan berkepanjangan diseling jamuan teh dan makan kue. Jadi, tak mungkin si Jerman itu tak kenal aku. Dia tentu cuma pura-pura. 
            Tapi, apa sebabnya? "Follow me sir, be hurry...," tegur pejabat yang menggiringku, nampak tak senang bahwa mataku meleng. "Sorry," kataku dengan sedikit tersipu sambil mempercepat langkah menuruti perintahnya. "Tuan tentu keliru. Rupanya dia bukan orang yang tuan sangka," terkanya. "Tidak," bantahku. "Tak mungkin keliru. Saya ketemu dia di Kedutaan Jerman di Beijing, lebih dari tiga kali. Yang terakhir baru minggu lalu ketika kami mengambil paspor dan visa RDJ." Pejabat itu diam, tapi mengangguk-angguk. Dibawanya aku melewati sebuah gerbang masuk ke ruangan besar. Di sana kami menuju ke deretan kabin yang masing-masing punya pintu-angin, lalu memasuki satu di antara kabin-kabin itu. Tanpa menunggu perintah kutaruh handbag-ku di meja segitiga berkaki satu yang terpancang menyudut ke tembok. Ketika mantel kusangkutkan ke cantolan, dia mencegah. "Keluarkan semua isinya," tangannya merenggut mantel itu, menaruhnya di atas meja. Sehelai sapu tangan, segenggam permen kecut, sebungkus Lucky Strike dengan sahabatnya: korek Ronson. Itu saja isi saku mantelku. 
            Semua kuletakkan di meja. "Nothing more?" "That's all," jawabku. "Saku-dalam, saku-dada kiri-kanan, keluarkan semua isinya, please." Dompet dan pasporku! Aku memang lupa mengeluarkan isi saku-dalam mantel itu. "Sorry," sesalku, "...I've just forgot it, this ugly me...." Aku harap mulutnya sedikit tersenyum oleh pengakuan kepikunanku. Tapi, tidak. Dia menggerakkan alis yang setebal jari jempol: merengut dengan serius. "Keluarkan isinya, please," telunjuk jarinya menuding dompetku sambil meneliti pasporku. Isi dompetku dua ratus US-dollar. Aku dapat itu dari pegawai konsulat sebuah negeri Skandinavia di kantornya di Beijing, juga ketika mengurus visa bersama Alex. Itu sebuah transaksi pribadi yang terjadi karena pejabat konsulat itu bersedia menukar US-dollarnya dengan Hongkong-dollar milik Alex plus milikku. Kami butuh US-dollar buat berangkat ke Eropa, dia butuh Hongkong-dollar buat melancong ke Hongkong, padahal valas barang langka di sana. Meski kami bukan diplomat, toh tahu kebiasaan transaksi demikian di kalangan CD4 ibu kota RRC. Tak ada hitungan untung-rugi antara kami. 
            Pas-pasan saja seperti kursnya. Tapi, tiba-tiba aku khawatir, jangan-jangan asal-usul dollarku dipersoalkan, padahal hidup di perjalanan ke Barat mau tak mau tergantung dollar. Ternyata, aman saja. Dia tidak menaruh selera. "Tuan singgah di Moskwa?" urus pejabat itu ketika meneliti transit-visaku. "Tidak. Cuma stopover," jawabku ringkas. "Sebaiknya Tuan melihat Moskwa. Indah bukan main. Tuan mesti nonton Bolshoi. What a wonderful journey you have..." "Just a sentimental journey. Lain tidak." Dia tergelak, tapi lantas melanjutkan penggeledahan, memeriksa lipatan-lipatan kertas berisi catatan nama dari beberapa kenalanku di Berlin, Paris, Amsterdam, Stockholm. Sekali lagi alisnya mengkerut. Mungkin dia mengira aku punya jaringan rahasia skala dunia. Dengan jlimet dia juga tak lupa memeriksa isi handbag-ku. Jelas mengesankan seorang pejabat yang jujur, berdisiplin, teliti, pengabdi setia tanah airnya: Uni Soviet. "Permata Bernstein murah di Moskwa, Sir...," katanya tiba-tiba, suaranya sedikit berbisik. 
           Aku mendadak khawatir, orang ini barangkali pura-pura saja pejabat douane biasa, tapi siapa tahu dia petugas dinas KGB5. Bila aku tak hati-hati, bisa celaka seperti ikan kena pancing. "Sayang, saya tak punya cukup uang," jawabku. "Dua ratus dollar, Sir, bayangkan! Di Barat bisa naik lipat empat jika tuan jual di sana. Bernstein Siberia itu top quality, the best in the world. Mereka suka!" "Saya percaya, tapi sayang saya tak punya bakat dagang...," aku pun makin berhati-hati. "Bakat itu tak perlu," bantahnya. "Don't worry, Sir. Aman. Nothing to do with customs. Gunakan kesempatan, Sir, singgah di Moskwa. Tak dua kali Anda hidup di dunia ini!" bujuknya. "Kalau saja ada waktu...," elakku, sekadar ingin mengakhiri percakapan. Tapi, dia mendesak lagi: "Anyway, kalau Anda tak ada waktu di Moskwa, di Irkutzsch sini Bernstein lebih murah lagi. Jangan ragu Sir. Bisa beli dari saya. Okey?" Dan dia mengeluarkan sekantung benda yang ditimang-timangnya di telapak tangan. Dikendorinya tali kantung itu. Nampak olehku selingkar permata Bernstein berbentuk kalung atau gelang, coklat muda menyorotkan keindahan cahayanya. 
           Jantungku kembali mendenyut lebih cepat. Aku mulai yakin akan kejujurannya. Maksudku kejujuran terhadapku untuk nyeleweng dari tugasnya. Batu permata memang kegemaran kakek-nenekku turun-temurun. Aku pun sudah menyimpan beberapa butir batu Giok dari Tiongkok dalam kopor bagase: sekadar persiapan menghadapi hari depan yang tak berketentuan. Akan lengkap pula jika aku menerima tawarannya. Dan dia terus mendesak: "Tinggal setengah jam, Sir. Aerovlot siap berangkat." "Maafkan ya," kataku, "... lima belas dollar?" Dia tak mengangguk. Menggeleng juga tidak. Wajahnya nampak riang. Aku yakin dia setuju menerima tawaranku. Kulekatkan lembar-lembar US-dollar di telapak tangannya. Dia pun menyodorkan kantung itu ke tanganku. "Fine, thank you, sir.... Have a beautiful journey." Disalaminya aku. Lucky Strike dan korek Ronson sengaja kutinggalkan di meja. Dia pun nampak sengaja tak mengingatkannya sebagai barangku yang ketinggalan. Dibiarkannya aku keluar sendirian. 
              ***RISKAN atau tidak transaksi itu terjadi. Ketika aku keluar dari ruang pemeriksaan, kulihat Alex masih berada di tempat semula. Apa yang tadi kualami kubisikkan. Komentar Alex: "Gila kau," matanya membelalak. "Lima belas dollar? Itu bisa buat makan sebulan di Yogya!" "Mimpi kau, Lex! Kau pikir kita di Tanah Air?" sengolku. "Tapi, lima belas dollar! Itu kelewat mahal!" "Mahal? Aku kenal harga permata...." "Aku bayar lima dollar dua kantung. Percaya enggak? Pejabatnya perempuan." "Ha...?" aku ganti membelalak. "Tadi kukira kau tidak diperiksa. Ternyata digaet juga?" "He-eh..." "Jangan-jangan di Moskwa nanti kita diperiksa lagi," kataku. "Pasti tidak," kata Alex. "Mata seluruh dunia tertuju ke sana. Kalaupun ada penggeledahan, tentu tidak terang-terangan. Moskwa perlu terkesan aman di mata semua bangsa." Alex ketawa-tawa dan tak henti-hentinya mengejek kekalahanku. Untung tak lama kami menunggu keberangkatan Aerovlot jurusan Moskwa. Dalam bus menuju ke tangga pesawat itu kulihat kembali si Jerman berdiri agak di tengah. Aku sengaja mendekatinya, berdiri di sisinya. Dia pasti tahu, tapi tetap saja pura-pura tak melihatku.              
            Tak kusangka dari mulutnya kudengar suaranya pelan: "Es ist hier besser when wir nicht miteinander sprechen...."6 Aku pun bungkam, menyadari kenaifanku sendiri, ada kala manusia merasa takut membuka mulut. Stopover di Omsk berlangsung dini hari. Di bandara Siberia Tengah ini pasasir mondar-mandir nampak lebih banyak dari yang kami duga. Malah mirip pasar loak. Orang-orang berdesakan sibuk dengan macam-macam urusan. Nampak pemuda-pemuda Rusia menawar jaket atau mantel winter yang melekat di badan orang. Juga kudengar di kanan-kiri pasasir menawar Bernstein. Arloji Shanghai-ku ditawar rubel, tapi itu benda kenangan, takkan kulepaskan. Hebat juga manusia di Siberia ini berjuang di dini hari sekadar merebut sedikit rezeki. Urusan Alex lain lagi. Sangat mendesak. Perutnya mulas, tapi kian-kemari tak juga ketemu WC. Perut itu tak berkenan bersentuhan dengan yoghurt kecut yang dia makan sebelum Aerovlot mendarat. Dia buru-buru lari meninggalkan "pasar loak" itu ketika berhasil menampak tulisan "WC". Tas dan mantelnya dia tumpuk begitu saja di lenganku, lalu lari. Tapi, sial, dia dikejar seorang petugas wanita yang tentu saja mencurigainya. "Hallo! Stop!" cegah si petugas. 
            Alex terkejut dan berhenti dengan melintir-lintir perut. "Follow me, Sir!" perintah si petugas. "No, no...," tolak Alex. "Impossible!" "I say... follow me!" "Sorry...., kebelet nih...," sahut Alex, mendadak lupa Inggris-nya. "What?" bentak si petugas. "I must go quickly right there.... My stomack, oooh...," dia menjelaskan dengan menekan-nekan perutnya. Si pejabat ternyata toleran. Alex dibiarkannya lari masuk ke WC, parkir di sana hampir setengah jam lamanya. ***BENAR juga dugaan Alex: Moskwa aman. Kami tak mengalami penggeledahan. Gema musik Rusia mengalun di ruang-ruang tunggu dan restoran. Beberapa pelayan dan pengepel lantai restoran laki-perempuan nampak giat bekerja sambil menggerak-gerakkan badan mengikuti irama balalaika. Hampir-hampir kami tak percaya, di negeri angker ini kegenitan anak-anak manusia masih bisa dipertontonkan. Satu-satunya yang menjengkelkan kami cuma pengumuman lewat loudspeaker: Interflug7 jurusan Berlin berangkatnya tertunda lima jam. 
            Tanpa keterangan apa sebabnya. Kami pun memasuki ruang-tunggu khusus bagi pasasir Interflug. Selera masuk restoran masih harus ditekan karena jam sarapan belum dibuka. "You are coming from Beijing?" tiba-tiba kami dengar suara seorang perempuan mendekati kami, dari pakaiannya jelas petugas sekuriti bandara Moskwa. "Yes," hampir bersamaan kami menjawabnya. "Follow me, please...," perintah yang itu-itu lagi. "Modiar!" bisik Alex ke telingaku. "Mau apa kita sekarang?" Kali ini kami berdua bersama-sama digiring keluar dari grup Interflug menuju pintu sebelah kiri restoran. Kami melewati juga deretan kabin-kabin mirip bilik-bilik pemeriksaan, tapi kami tidak dibawa masuk ke sana. Kali ini pasti urusan gawat, pikirku. Orang-orang Rusia tidak akan sebodoh yang kami duga. Aku kini yakin sekali. Barangkali Alex juga berpikir begitu, tapi kami bungkam, tak berani berbicara. Akhirnya kami disilakan masuk ke sebuah ruangan berdinding kaca tertutup gorden kelabu. Si petugas begitu saja lantas meninggalkan kami. "Selamat datang di Moskwa!" suara dua orang setanah airku yang tak pernah kami kenal. 
            Mereka menunjukkan wajah gembira menyalami kami. "Jangan kaget, Bung. Selama ini selalu menjadi kewajiban kami membantu orang setanah air. Kiranya bantuan apa yang kalian butuhkan?" Saking kagetnya kami pun terdiam, menyambut salam mereka tanpa ingat nama. Siapa pun yang mengalami peristiwa demikian, perlu mengerti reaksi pertama di hati kami: curiga. Lepas dari misi kemanusiaan seperti yang mereka ucapkan, hanya kecurigaan saja yang mengganggu benakku. Segera pula aku sadar, transit-visa lewat Moskwa tidak begitu sederhana lekuk-likunya. Lebih tak masuk akal lagi, mereka juga menawari kami untuk tinggal di Moskwa. Seolah kekuasaan negeri ini sudah pindah ke tangan mereka. Kenaifan apa pula yang kini perlu kami akui? "Begini, Bung," jawab Alex, "Kami mau ke Jerman Barat, di sana ada kenalan, buat sementara segalanya telah tersedia. Harap jangan repotlah. 
                Terima kasih atas perhatian kalian." Pembicaraan itu berlangsung hampir satu jam dan berakhir dengan penyesalan. Ada kala rotasi bumi memang mengguncang kepala semua orang untuk berpikir dan berpikir, mengapa penyesalan seperti itu perlu terjadi. Dan permata Bernstein itu! Bettina-mahasiswi kenalan kami di Bonn-gagal mencoba menjualnya. Beberapa toko permata menolak membelinya. Menawar pun tidak. Semuanya permata palsu dari plastik. "Modiar lu!" kutuk Alex padaku, juga pada diri sendiri.

Rumah Baru

 Cerpen: Pamusuk Eneste 

 Sumber: Kompas, Edisi 08/04/2002 

              PUKUL 16.30, telepon berdering di rumah baru dan asri di Gang Tenang dan Sejuk Nomor 60, Jalan Kaliurang Km 6,60 Yogyakarta. ”Nah, itu telepon dari Bapak.” ”Bapak sudah tiba, Bu.” ”Tolong diangkat teleponnya.” ”Mudah-mudahan Bapakmu selamat.” Anak-anak yang berkumpul berteriak-teriak, ”Eyang datang!” ”Eyang datang!” Seisi rumah tiba-tiba menjadi sunyi ketika seseorang menuju tempat telepon dan mengangkat telepon. Semua orang memusatkan perhatian pada siapa yang menelepon dan apa berita yang disampaikan si penelepon.”Apakah ini rumah Pak Jek?” tanya seseorang di ujung telepon.”Betul.””Ini Kepala Stasiun Lempuyangan. 
            Dimohon keluarga Pak Jek datang ke UGD Rumah Sakit Sardjito.””Ada apa, Pak?”Si penelepon tidak mengatakan apa-apa kecuali kata emergency, lalu menutup pembicaraan.Penerima telepon yang masih memegangi gagang telepon itu hanya terpana dan tak tahu harus berbuat apa. Sesaat, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.”Dari Bapak, ya?””Bagaimana Bapak?””Bapak sudah nyampe di Tugu ya?””Bapak selamat ya?”Namun, istri Pak Jek dapat membaca wajah anaknya yang menerima telepon itu. Wajah anak itu tahu-tahu menjadi pucat pasi. Seumur-umur, istri Pak Jek tak pernah menyaksikan wajah anaknya sepucat itu. Duh Gusti! Pertanda apakah ini?JANGAN masuk rumah baru pada usia 60 tahun,” kata seorang rekan Pak Jek.Namun, Pak Jek menganggap omongan itu hanya guyonan. Angin lalu saja! Menurut Pak Jek, itu hanya omong kosong. Takhyul. Mitos. Tak bisa dipercaya dan belum pernah dibuktikan secara ilmiah.Itulah sebabnya, satu tahun menjelang pensiun, Pak Jek sudah membangun rumah di Yogyakarta, tepatnya di jalan menuju Kaliurang. ”Rumah buat hari tua” menurut istilah Pak Jek.Pak Jek memilih Yogyakarta karena menurut dia Yogya cocok untuk orang pensiunan. ”Kotanya tenang dan tidak terlalu besar. 
            Dari ujung ke ujung bisa dicapai dalam tempo satu jam atau malah kurang. Harga barang kebutuhan, terutama makanan, tidak semahal di Jakarta. Orang-orangnya tidak sehiruk-pikuk orang Jakarta.”Pak Jek membeli tanah di jalan tak jauh dari jalan raya menuju Kaliurang. Selama dibangun, sengaja Pak Jek tidak pernah melihat rumah itu. Dia hanya memberikan gambar dan rancangannya pada tukang yang dipercayainya. Ia baru akan melihat rumah itu dan menginjaknya pertama kali dalam keadaan sudah jadi pada saat hari pertama pensiun nanti.”Tidak diawasi?” pembaca tentu bertanya.Pembangunan rumah hanya diawasi anak Pak Jek yang tinggal di Yogya. Itu pun hanya sekali seminggu, hari Sabtu atau hari Minggu.”Biar ada kejutan,” kata Pak Jek memberi alasan. ”Semacam surprise-lah. Jadi, betul-betul rumah baru bagi saya. Baru saya lihat dan baru pertama kali saya injak dan masuki.”Lalu, kita tentu bertanya, mengapa Pak Jek memilih daerah Kaliurang. Mengapa tidak memilih Bantul, Sentolo, Gunungkidul, Magelang, Prambanan, atau Klaten? Mengapa pula bukan daerah Parangtritis sekalian biar dekat dengan laut?”Saya suka daerah sejuk dan tenang. 
            Masih banyak pepohonan hijau. Belum terpolusi udaranya. Lagi pula, gampang kalau mau naar boven ke Kaliurang. Gampang pula kalau mau bepergian melalui Stasiun Tugu atau Stasiun Lempuyangan.”Memang sudah agak mahal ketika Pak Jek membeli tanah di situ lima tahun silam.”Tapi tak apa. Cuma sekali kok dalam hidup saya. Toh akan kutinggali buat selamanya sepanjang Tuhan memberiku umur.”Menurut Pak Jek, mahalnya harga tanah di daerah Kaliurang karena ulah orang Jakarta juga.”Orang Jakarta itu banyak duit dan rakus. Berapa pun harga tanah, mereka bisa beli. Pokoknya, apa pun mereka bisa beli. Kalau ada binatang pemakan segala maka orang Jakarta itu pembeli segala. Tak percaya? Coba saja tawari orang Jakarta apa saja. Pasti mereka beli. Termasuk sampah dari luar negeri...”RUMAH itu dibangun Pak Jek di atas tanah seluas 120 meter, dengan bangunan 60 meter persegi. Bukan karena Pak Jek tak mampu membeli tanah 500 meter, atau 1.000 meter, atau bahkan 1.200 meter. Pak Jek mempunyai pertimbangan sendiri mengapa luas tanahnya hanya 120 meter persegi.”Makin luas tanahnya, tentu makin repot pemeliharaannya. Makin luas pagarnya. Makin banyak tanamannya; makin banyak sampahnya. 
            Makin banyak rumputnya; makin lama memotongnya. Pokoknya, makin banyak segala-galanya... termasuk biayanya.”Mengenai bangunan yang hanya 60 meter persegi, Pak Jek juga punya pendirian.”Aku hanya berdua dengan istri. Buat apa rumah besar? Makin besar rumah, tentu makin banyak ruangannya. Makin banyak kebutuhan listriknya. Makin banyak air yang diperlukan untuk mengepelnya. Makin capek menyapunya. Padahal, aku dan istriku makin renta. Jadi, cukuplah 60 meter persegi.”Anak Pak Jek yang di Surabaya pernah berkomentar,”Kayak rumah BTN saja, Pak.”Namun, Pak Jek tidak tersinggung dengan kata-kata itu.”Mbok, yang lebih besaran Pak rumahnya,” kata anaknya yang di Semarang.”Lho, memangnya kamu mau ngurus rumah gede? Yang ngurus rumah itu kan aku nanti. Rumahmu ‘kan di Semarang.”Anak Pak Jek yang di Bandung pun pernah protes.”Kalau kita sekeluarga datang nanti tidur di mana, Pak?””Ah, itu soal gampang. Di Yogya kan banyak hotel. Mulai dari hotel melati hingga bintang lima. 
            Kamu dan keluargamu ’kan bisa tidur di sana. Setelah main-main seharian di rumah Bapak, atau setelah keliling ke Borobudur, Prambanan, Parangtritis, Keraton Yogya, kamu dan keluargamu kembali ke hotel. Enak, kan? Lagi pula, di rumah Bapak kan tidak ada AC, ibumu tidak suka. Di hotel ‘kan ada AC-nya.””Lho, bukannya anak Bapak, menantu Bapak, cucu Bapak harus menginap di rumah Bapak? Bagaimana sih Bapak ini?””Lho, yang mengharuskan itu siapa toh, Nak?””Lagi pula,” lanjut Pak Jek, ”kalau kamu dan suamimu serta anak-anakmu tidur di rumah Bapak pasti akan merepotkan ibumu yang sudah tua. Harus masak ini dan itu untuk anakmu, padahal mereka belum tentu suka. Ibumu juga akan repot menyiapkan ini dan itu. Bukankah lebih praktis kalian tidur di salah satu hotel di Yogya? Lagi pula, lebih dekat ke Malioboro. Dari rumah Bapak kan jauh ke Malioboro? Nanti uangmu habis disedot sopir taksi Yogya yang nakal-nakal itu.”Angka 60 itu pun ada artinya bagi Pak Jek. Pada usia 60-lah Pak Jek pertama kali akan menginjakkan kaki di rumah itu, memasukinya, dan mulai tinggal di situ.Acara melepas seseorang yang akan pensiun biasanya diadakan di aula perusahaan. Memang ada juga yang diadakan di restoran yang kesohor. 
            Bahkan ada pula yang diadakan di hotel berbintang. Untuk orang berjabatan tinggi seperti Pak Jek, seorang direktur perusahaan MNC, sebetulnya pelepasan seperti itu patut dilakukan di hotel bintang lima. Namun, sudah jauh-jauh hari, Pak Jek mengingatkan para karyawannya,”Kalian melepasku nanti tak usah di restoran atau di hotel yang mahal. Lebih baik sewa restoran dan sewa ruangan hotel dibagi-bagikan pada karyawan saja, atau dijadikan modal usaha perusahaan kita.”Karena sudah di-wanti-wanti seperti itu, karyawan dan anak buah Pak Jek tidak memikirkan macam-macam lagi. Mereka tahu, Pak Jek itu orangnya saklek bin tegas. Sekali berkata A, berarti tak ada tafsiran lain di luar A.Oleh karena itu, panitia pelepasan Pak Jek penasaran,”Kalau begitu, di mana dong Pak?””Nanti saya beri tahu,” ujar Pak Jek dengan kalem.”Nanti kapan, Pak?””Sehari sebelum saya pensiun.””Lho, bagaimana mungkin, Pak, panitia bekerja sehari sebelumnya?”Pak Jek diam sebentar, lalu,”Ya, tak usah pakai panitia-panitia segalalah... Santai saja.””Bagaimana mungkin santai, Pak?””Mungkin saja. Jadi, kalian tak perlu buang-buang waktu untuk panitia-panitiaan. 
           Mendingan kalian bekerja saja daripada sibuk dengan kepanitiaan. Lagi pula, perusahaan kita bisa menghemat banyak waktu dan biaya.”SEHARI sebelum berusia 60 tahun, Pak Jek menepati janjinya. Pak Jek menentukan tempat pelepasannya di Stasiun Gambir, bertepatan dengan hari keberangkatan Pak Jek menuju Yogyakarta.Para karyawan Pak Jek yang mendengarnya terperangah. Ada di antara mereka yang nyaris tertawa terbahak-bahak mendengar kata ”Gambir”. Hanya karena kesopanan sajalah karyawan itu menahan rasa gelinya mendengar kata itu. Mereka hanya berkomentar yang lain dengan sesamanya.”Bagaimana mungkin melepas seorang direktur perusahaan MNC di stasiun?””Di stasiun kereta kan berisik dengan orang-orang yang mau naik kereta api?””Tidak cocok, ah, di Gambir.””Lantas duduknya bagaimana?””Acaranya bagaimana?”Meskipun karyawan Pak Jek tidak mengerti jalan pikiran bos mereka yang akan pensiun itu, para karyawan toh berdatangan ke Gambir pada jam yang ditentukan.Pak Jek akan naik kereta api Yogya Ekspres pukul 08.00 pagi. Pukul 07.00 Pak Jek sudah ada di Stasiun Gambir.Soal naik kereta ini pun sudah menimbulkan bisik-bisik di kalangan karyawan.”Bos kita kok naik kereta sih? 
           Apa nggak salah tuh?””Naik kereta ‘kan tidak pernah tepat waktu. Selalu molor!””Kenapa tidak naik pesawat terbang saja? Satu jam sudah nyampe.””Makanan di kereta ’kan tidak enak.””Kereta api kita kan ada tikusnya!”Rupanya, Pak Jek tahu suara batin para karyawannya itu. Oleh karena itu, ia memberi penjelasan berikut.”Selama ini ‘kan saya naik pesawat terbang terus ke mana-mana dengan biaya perusahaan karena peraturan perusahaan mensyaratkan demikian. Seorang direktur harus naik pesawat terbang ke mana-mana demi efisiensi. Sekarang, boleh dong saya naik kereta api atas kemauan sendiri... dan juga atas biaya sendiri.”Para karyawan pun manggut-manggut. Entah pertanda mengerti, entah pertanda bingung mendengar penjelasan Pak Jek.Acara perpisahan itu hanya berlangsung beberapa menit. Setelah pihak perusahaan membeberkan jasa Pak Jek selama 30 tahun bekerja, Pak Jek pun mengucapkan satu dua patah kata.”Terima kasih atas kerja sama kalian selama ini,” kata Pak Jek mengakhiri kata-katanya.Tidak ada acara penyerahan kado kepada Pak Jek karena Pak Jek sebelumnya sudah mengatakan,”Pada acara di Gambir, tak usah ada acara penyerahan kado kepada saya. Toh saya sudah dapat banyak dari perusahaan selama ini. 
           Lebih baik uang untuk kado itu digunakan untuk kepentingan perusahaan saja. Lagi pula, rumahku yang baru cuma enam puluh meter persegi, kok. Jadi, tidak bisa muat banyak barang, termasuk kado dari kalian.”Secara bergiliran, para karyawan pun menyalami Pak Jek. Ada yang memeluk Pak Jek. Ada yang hanya memegang kedua bahunya. Ada yang menyalami dengan dua tangan. Ada yang hanya menyalami dengan satu tangan. Ada pula yang mencium tangan Pak Jek. Beberapa wanita hampir menitikkan air mata. Bahkan bekas sekretaris Pak Jek tak sanggup menahan air matanya. Mungkin dia punya kesan dan kenangan tersendiri terhadap Pak Jek. Siapa tahu.Beberapa saat kemudian, dari mikrofon terdengar pengumuman.”Para penumpang kereta api Jogja Ekspres dipersilakan naik ke kereta api. Terima kasih.”Beberapa detik kemudian, terjadilah hiruk-pikuk di peron antara calon penumpang, pengantar, dan kuli angkut. Calon penumpang berdesakan di pintu gerbong kereta api, sedangkan pengantar yang berada di atas juga berdesakan hendak turun.”Hati-hati copet, Pak,” ujar seseorang.PAK Jek menempati gerbong 6 nomor 6A di dekat jendela. 
           Kursi di sebelahnya, nomor 6B, masih kosong. Namun, Pak Jek tidak mau ambil pusing.Dari mikrofon di langit-langit kereta api terdengar suara wanita.”Selamat pagi para penumpang kereta api eksekutif Jogja Ekspres yang terhormat. Terima kasih atas kepercayaan Anda menggunakan kereta api Jogja Ekspres. Perjalanan kita ke Yogyakarta memakan waktu delapan jam. Kereta hanya berhenti di Stasiun Cikampek, Stasiun Cirebon, dan Stasiun Purwokerto. Kami akan menyediakan makan siang untuk Anda selepas Stasiun Cirebon dan menyediakan makan kecil serta secangkir teh selepas Stasiun Jatinegara.”Begitu kereta api meninggalkan Stasiun Gambir, hal pertama yang dilakukan Pak Jek adalah mengeluarkan Ericsson T39 dari kantong jaketnya. Lalu, Pak Jek mengirim SMS ke keluarganya di Yogya. ”Saya sudah berangkat dari Gambir pukul 08.00. Tiba di Tugu pukul 16.00. Tak usah dijemput.”Istri Pak Jek memang sudah berangkat lebih dahulu ke Yogya, menunggu di rumah baru. Begitu pula empat orang anak Pak Jek (dari Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta) lengkap dengan anak-anak mereka. Pak Jek ingin, keluarga besarnya menyambutnya di rumah baru saja. Tidak di Stasiun Tugu!Setelah memasukkan HP-nya kembali ke kantong jaket bagian dalam, mata Pak Jek pelan-pelan mulai meredup. Pak Jek baru terbangun ketika petugas kereta api memeriksa tiket.Pak Jek tidak tahu persis sudah melewati stasiun mana pemeriksaan itu dilakukan. Pak Jek juga tidak tahu, kapan pramugari kereta menaruh secangkir teh dan makanan kecil di meja kecil di depannya.Pak Jek memang gampang tertidur. Kapan saja, di mana saja, ia gampang terlelap. Di rumah pun selalu begitu. Begitu bertemu dengan bantal, Pak Jek langsung pulas. Bertemu sofa empuk, jika ditinggal sendirian, Pak Jek juga bisa terlena. Bagusnya, Pak Jek tidak mengorok.Pak Jek pulas lagi setelah menyeruput teh di meja kecil sampai habis. Itu berlangsung hingga tiba saat makan siang selepas Stasiun Cirebon.”Pak, makan siang Pak,” kata pramugari.Pak Jek membuka mata, lantas menerima baki yang disodorkan pramugari kereta api.Makanan di kereta api Jogja Ekspres itu memang tidak mengundang selera Pak Jek. Secuil nasi putih. Sepotong paha ayam goreng yang keras. Secuil kol putih yang dioseng-oseng dan sebuah pisang raja. Ada pula sendok garpu, tusuk gigi, dan sepotong tisu. Namun, tetap saja Pak Jek menghabiskan isi baki itu. Menurut Pak Jek, setiap makanan harus disyukuri meski makanannya tidak mengundang selera.Pak Jek sudah sering mendengar keluhan mengenai makanan itu dari para karyawannya. Namun, Pak Jek tetap saja memilih naik KA Jogja Ekspres. Ada beberapa dugaan Pak Jek mengenai makanan di KA Jogja Ekspres itu. Barangkali alokasi dana untuk makanan para penumpang memang terbatas. Atau selera petinggi kereta api, khususnya Jogja Ekspres, yang kurang baik sehingga tega membagikan makanan yang kurang membangkitkan selera bagi para penumpang. Boleh jadi, anggaran untuk konsumsi penumpang disunat para pemimpin perusahaan kereta api. Siapa nyana.PAK Jek tidak tahu bahwa Jogja Ekspres sudah melewati Stasiun Purwokerto, Stasiun Kebumen, Stasiun Kutoarjo, dan Stasiun Sentolo. Berarti Yogya sudah hampir tiba. Tinggal beberapa kilometer lagi.Sambil meluncur ke arah timur, dari mikrofon kereta api terdengar suara pramugari.”Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan memasuki Stasiun Tugu. Dimohon Anda mempersiapkan barang-barang bawaan. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Terima kasih atas kepercayaan Anda memilih kereta api Jogja Ekspres. Kami mohon maaf bila ada pelayanan yang kurang memuaskan Anda. Sampai bertemu lagi pada kesempatan lain.”Penumpang-penumpang mulai bergegas meraih barang-barang yang ada di tempat bagasi atas. Para wanita mulai menata rambut mereka dan memoles bibir. Bapak-bapak menyempatkan diri ke toilet. Anak-anak pun mulai ribut.Hanya Pak Jek yang tetap di tempatnya. Bantal kecil masih tetap menutup mukanya. Ia seperti tidak ambil pusing dengan orang-orang yang hiruk-pikuk menyongsong Stasiun Tugu. Tas kecilnya masih tetap megogok di atas kepala Pak Jek.Begitu kereta melewati jembatan di atas Jalan Tentara Pelajar, kuli-kuli angkut—tak ubahnya Tarzan dalam film kartun—mulai berloncatan ke dalam gerbong kereta.”Barangnya, Pak.””Angkat barang, Bu.””Bisa saya bantu, Pak.””Barangnya saya bawa, Bu.””Mari Bu saya bantu.””Kopernya saya bawa, Pak.”KERETA api Jogja Ekspres yang baru datang dari di Stasiun Tugu sedang dilangsir di Stasiun Lempuyangan. Di sana kereta dibersihkan dan nanti malam akan berangkat kembali ke Jakarta.Namun, seorang tukang sapu kaget masih ada penumpang yang tetap duduk di gerbong 6 nomor 6A persis dekat jendela. Bantal menutupi mukanya.”Pak, bangun, Pak!”Orang yang dibangunkan tak bereaksi.”Sudah sampai, Pak!”Tukang sapu itu pun memanggil temannya.”Coba kamu yang bangunkan.”Tukang sapu kedua coba membangunkan.”Pak sudah sampai Yogya, Pak. Bangun, Pak!”Orang yang dibangunkan tetap bergeming.Lantas, tukang sapu itu mengambil bantal dari muka penumpang itu.Tak ada respons.Tukang sapu satunya memegang tangan dan kemudian menggoyang tubuh laki-laki berusia 60 tahun itu.Laki-laki itu tak juga bangun. Bereaksi sedikit pun tidak.”Keasyikan mungkin tidurnya.””Terlalu capek mungkin dari Jakarta.””Mungkin baru kali ini dia naik sepur eksekutif.”Karena tak bereaksi sedikit pun, kedua tukang sapu itu memanggil tukang-tukang sapu yang lain.Setelah dicoba berulang kali, penumpang itu tetap saja tak mau bangun.Karena tak bereaksi juga, para tukang sapu menghubungi petugas stasiun.Petugas stasiun pun naik ke gerbong 6.Petugas itu mencoba memegang tangan penumpang di nomor 6A. Dipegangnya lagi dan dirasa-rasakannya lebih cermat (seperti dokter memeriksa pasien). Lalu tiba pada kesimpulan.”Lha, tangannya sudah dingin ’gitu kok...”Petugas itu kemudian meraba dada penumpang itu.”Napasnya kok tidak terasa lagi...””Jangan-jangan sakit jantung...””Jangan-jangan sudah seda...

Rumah Kawin

 Cerpen: Zen Hae 

 Sumber: Kompas, Edisi 04/06/2003 

  

             LAGU Cente Manis baru saja berakhir dari mulut Gwat Nio. Para wayang cokek sudah mengosongkan kalangan. Para panjak mulai membereskan alat musiknya masing-masing. Tetapi Mamat Jago masih saja berdiri sambil memeluk Sarti di tengah kalangan. Tangannya terus meremasi pantat Sarti dan menyorongkan mulut monyongnya ke mulut wayang bermata burung hantu itu. Sarti melengos dan berusaha mendorong tubuh Mamat Jago sekuat tenaga, tetapi dengan cepat Mamat Jago meraih tangan Sarti dan melipatkannya ke pinggangnya. Kali ini Mamat Jago menggoyang-goyangkan pinggangnya sambil terus menekan pantat Sarti. "Aih, jangan tinggalkan abang, manis. Jangan pampat kawah yang mau meledak ini. Ooohh ….Heh, panjak, gesekin gua lagu Ayam Jago. Gua mau ngibing lagi."

  

            TUKANG teh yan celingukan, juga pemain musik lainnya. Ini sudah jam dua pagi. Sudah waktunya rombongan Gambang Kromong Mustika Tanjung pimpinan Tan Eng Djin dari Teluk Naga berhenti main. Izin keramaian yang mereka dapatkan dari keamanan setempat hanya sampai pukul satu. Sudah lewat satu jam.

  

 "Heh, budek lu. Gua masih banyak duit. Gua mau nyawer lagi," teriak Mamat Jago sambil menuding-nuding para panjak yang masih saling bersambut pandang.

  

            Sarti kembali mengibaskan tangannya. Menarik tubuhnya dari pelukan Mamat Jago yang kian sempoyongan. Terlepas. Sebagai gantinya satu tamparan Mamat Jago mendarat di pipinya. "Sundal lu!" maki Mamat Jago sambil melempar cukin merah hati ke wajah Sarti. Sambil meringis dan meme-

  

 PEGANGI pipinya Sarti berlari ke arah wayang lain yang sejak tadi hanya bisa memandanginya dengan cemas.

  

             Ini sudah kelewatan, pikir Eng Djin. Anak buahnya memang boleh dipeluk, dicium, atau dibawa ke mana saja, tetapi pantang disakiti. Ia pun keluar dari sela-sela gong dan menghampiri pengibing mabuk itu. Merendengnya. "Maaf, kami harus berhenti, Bang. Kalau tidak cokek ini bisa digerebek polisi."

  

 "Jangan takut, Koh. Mereka semua teman saya. Ayo, main lagi. Saya akan mati kalau gambang berhenti. Ayo, panjak…"

  

          Bang Minan mulai menggesek teh yan-nya, tetapi segera Eng Djin menggoyang-goyangkan tangan kirinya. Sepi. "Mendingan abang pulang saja. Jangan bikin perkara…"

  

 "Sial dangkalan lu," maki Mamat Jago. Dengan sisa tenaganya disodoknya perut Eng Djin, tetapi ia menepiskan tangan itu. Mamat Jago balas menyerang dengan pukulan siku yang diruncingkan-gentus tubruk. Eng Djin jatuh terduduk. "Engkoh jangan melecehkan saya. Saya juwara kampung. Jago berantem. Semua orang bisa saya bikin takluk."

  

            Eng Djin bangkit dan mundur selangkah. Dipandanginya kepalan tangan Mamat Jago yang padat berisi. Empat belas jurus ilmu pukul memang masih dikuasainya, tetapi ia sadar, tidak mungkin menandingi kemahiran pukulan jawara kampung Rawa Lingi ini. Namun, ia akan melawan sebisanya kalau Mamat Jago melancarkan pukulan lagi. Itulah cara ia mempertahankan harga dirinya di depan anak buahnya. Ternyata, tidak. Mamat Jago hanya memasang jurus. Kuda-kudanya kelihatan goyah. Tubuhnya sedikit goyang.

  

           Tiba-tiba, dua orang berjaket kulit hitam, si gondrong dan si cepak, masuk ke kalangan. Eit, Mamat Jago mengalihkan kuda-kudanya ke arah dua orang asing itu. Mencoba lebih awas, ia kibas-kibaskan kepalanya. Si gondrong lantas mencabut revolver dari balik jaketnya dan mengacungkannya ke udara. Orang-orang terkesiap. "Bapak-ibu saya minta berhenti. Bubar!" perintahnya. Dengan sigap si cepak mencekal tangan Mamat Jago, memitingnya, memborgolnya, dan menyeretnya seperti sekarung tahi ayam.

  

         Entah sudah berapa Lebaran lewat setelah penangkapan itu. Sudah lama sekali, gumam Mamat Jago. Saat itu dengan mudah ia masuk-keluar sel. Ditangkap malam keluar pagi, ditangkap pagi keluar sore, ditangkap sore keluar malam. Anak-anak buahnya akan mengantarkan uang tebusan, tak lama setelah ia digelandang polisi. "Polisi teman abang," katanya berkali-kali kepada anak buahnya. Setelah itu ia akan dengan leluasa datang lagi ke rumah kawin, ngibing dan minum, membuat keributan bila perlu.

  

            Tetapi, itu dulu. Ketika kekayaan dan kehormatan didekapnya dengan dua tangan. Ketika bisnis penjualan kebun dan sawah di kampungnya sedang ramai-ramainya. Setiap saat orang datang dan pergi dari rumahnya. Membawa dan mengambil uang. Pekerjaannya sebagai calo tanah sangat sibuk kala itu. Pernah suatu ketika anak buahnya harus memanggul berkarung-karung uang ke rumahnya untuk membebaskan berhektar-hektar sawah yang kini menjadi bandar udara itu. Orang-orang kampungnya pernah berkata, ia tidur bukan di atas kasur kapuk, tetapi di atas kasur uang.

  

           Sekarang ini semuanya sudah lain. Kekayaan dan kehormatannya rontok sudah, seperti pohon kelapa disambar petir. Meranggas dan mati. Tanahnya yang dulu hektaran kini hanya tinggal sepekarangan saja, menciut bagai kelaras terbakar. Di atasnya berdiri rumah yang dulu pernah menjadi rumah termegah dan termahal di kampungnya-kini sudah menjadi sarang kumbang, ngengat, dan laba-laba. Kosong, kusam, sepi. Mobil, motor, dan kerbaunya sirna tak berbekas. Anak buahnya yang berjumlah puluhan sudah pergi meninggalkannya, entah ke mana. Masroh, istri yang tak pernah lagi disentuhnya sejak terkena TBC, wafat dua tahun lalu. Tiga anak perempuannya sudah dibawa suami mereka ke kota lain. Menjadi orang rantau. Satu anak lelakinya menjadi pengojek untuk menghidupi istri dan empat anaknya. Hanya ia dan si bungsu yang tinggal di situ.

  

         Ah, betapa perihnya kehilangan ini, keluhnya. "Apa ada obatnya?"

  

         Pekerjaan sebagai calo tanah sudah tidak dilakoninya lagi. Tidak ada lagi orang yang mau menjual kebun dan sawahnya. Tanah warisan mereka sudah habis terjual, tinggal yang kini mereka tempati. Dan itu tak mungkin mereka jual, kecuali kalau mereka mau menjadi gelandangan di kampung sendiri. Lahan-lahan yang tadinya menjadi sumber penghidupan mereka kini sudah berubah fungsi. Ratusan hektar sawah itu sudah dibikin rata tanpa pematang dan diberi pagar besi setinggi dua meter di tepinya. Di tengahnya membujur dua jalur landasan beton, dari barat ke timur. Ia dan orang kampungnya hanya bisa memandangi pesawat terbang yang lepas landas dan mendarat, hanya mereka yang pernah naik haji mampu menaikinya. Di malam hari pesawat-pesawat itu berubah menjadi kunang-kunang raksasa yang tubuhnya tetap berkelap-kelip meski melayang di batas langit terjauh.

  

             Pabrik-pabrik juga sudah beroperasi, siang dan malam. Siapa pun orang terkaya di kampungnya tidak mungkin membangun dan memiliki pabrik-pabrik itu. Mereka hanya petani penggarap dan pedagang kecil, tidak mungkin menguasai bisnis dan teknologi perpabrik- an secanggih itu. Tapi, anak-anak mereka, lelaki dan perempuan, si bungsu juga, senantiasa berbondong-bondong, keluar masuk pabrik, dengan seragam yang sama. Mereka sudah menjadi manusia pabrik yang mau tidak mau dibayar murah oleh tauke-tauke dari Korea, Jepang, dan Taiwan.

  

             Rumah-rumah mewah juga sudah dibangun dan ditempati orang-orang yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya. Mereka memang tidak mampu membeli dan menempati rumah mahal itu, tetapi mereka masih bisa menjadi pengojek di perumahan itu dengan motor yang dibeli dari hasil menjual tanah warisan mereka. Mereka masih bisa menikmati jalan aspalnya yang lurus-menyiku, sungai kecil yang jernih dan dibeton tepinya, taman yang indah, sambil memandangi rumah-rumah besar dengan pintu dan jendela yang melengkung. Ya, gonggong anjing, tentu saja.

  

 Ah, betapa menyesakkan kekalahan ini, keluhnya. "Aku butuh obat."

  

           Ia menarik napas dalam-dalam. Aroma tanah basah dibawa angin selatan melintasi padang ilalang setinggi pinggang. Hujan akan segera turun. Musim penghujan sudah tiba dan akan makin tinggi curahnya menjelang Tahun Baru Imlek! Ya, musim kawin orang Cina akan tiba juga. Rumah-rumah kawin di Kampung Melayu, Kosambi, Salembaran, dan Sewan akan ramai lagi. Ia rindukan semua itu.

  

           Ia datangi lagi rumah kawin "Teratai Putih". Semuanya masih seperti dulu. Orang-orang menyingkir begitu ia melintas. Dipasangnya langkap tegap seorang jawara kampung. Hanya di sinilah aku bisa menikmati lagi seluruh kesenangan dan kehormatan hidupku, pikirnya. Bukankah sudah bertahun-tahun belakangan ini ia tidak menikmati dua hal itu lagi. Ya, di sinilah orang akan memuji kelihaiannya ngibing yang dipadu dengan keindahan jurus-jurus pukulnya, kekuatannya menenggak berbotol-botol bir campur anggur, keroyalannya nyawer. Dan tubuh wayang yang panas dan memabukkan! Liukan dan goyangan yang membangkitkan syahwat! Aih, lelaki mana yang bisa tahan.

  

         Cukin merah hati sudah dikalungkan tukang cukin ke lehernya, tanda ia harus turun ke kalangan, memilih wayang mana yang ia suka. Ditatapnya Sarti yang sejak tadi duduk di pojok. Kali ini ia memakai kaus biru bergambar matahari di dadanya dan celana capri krem. Dengan pakaian itu ia tampak lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Sedikit gemuk membuat lekukan-lekukan tubuhnya tampak nyata dibalut pakaian yang serba ketat itu. Darahnya berdesir. Ditariknya tangan wayang langganannya itu. Pengibing dan wayang lain sengaja hanya menonton, memberi penghormatan atas kembalinya si raja ngibing dari Rawa Lingi itu. Mamat Jago tersenyum bangga. "Ayo, panjak, gesekin gua lagu Ayam Jago. Gua mau ngibing lagi."

  

           Teh yan digesek, disusul gambang, kecrek, gong, suling, dan kempul. Susul-menyusul. Jalin-menjalin. Gwat Nio sudah melantunkan suaranya yang garing-melengking seperti suara burung titutit. Tapi Sarti tidak juga menggoyangkan tubuhnya. Tangannya dibiarkan terkulai. Mamat Jago meraihnya, melipatkannya ke pinggangnya, merapatkan pelukannya. Tubuh perempuan itu terasa dingin, seperti daun dadap pengusir demam anak-anak. Wajahnya membiru, bibirnya terkatup, matanya terpejam. Ayo, Sarti, jangan kaugoda aku seperti malam-malam dulu! Digoyang-goyangkannya tubuh Sarti, tetap dingin dan biru. Ditepuk-tepuknya pipinya, tak ada reaksi sedikit pun. Dipandanginya para panjak. Sepi. Tak ada yang bergerak. Semua dingin dan biru. Seperti keramik Cina.

  

          Rumah kawin ini sudah menjadi rumah mayat, pikirnya. Ia bopong Sarti keluar. Ia tinggalkan rumah kawin itu. Menerobos hujan senja yang turun bagaikan lapis-lapis kelambu. Sepanjang jalan tak ada orang. Pohon-pohon meliuk-mabuk, rumah-rumah bisu-merunduk. Ia susuri jalan aspal, memotong sungai, membelah padang ilalang. "Kau tidak boleh mati, sayang. Hiduplah bersama abang. Di rumahku kau akan hangat." Dikecupnya bibir Sarti. Air liurnya yang bercampur air hujan masuk ke mulut Sarti. Si mata burung hantu itu tersedak. Tubuhnya menggeliat. Tangannya meraih leher Mamat Jago. Ia tersenyum dan mempercepat langkahnya.

  

            Malam dan hujan pertama benar-benar telah mengepung kampungnya. Dari kejauhan rumahnya yang terletak di tepi sawah bera dengan pematang yang lurus memanjang tampak bagaikan lukisan yang luntur. Namun, satu dua lampunya membangkitkan keriangan masa mudanya. Bukankah dulu ketika masih berpacaran ia dan Masroh selalu berlarian di atas pematang sawah begitu hujan pertama turun. Setelah basah kuyup oleh air hujan barulah mereka mandi di sumur senggot yang airnya terasa lebih hangat daripada air hujan. Buatnya, laku itu semacam perayaan untuk datangnya musim penghujan.

  

               Sesampainya di rumah dibaringkannya Sarti di ranjang. Di situlah dulu istrinya mengembuskan napas terakhirnya dengan tubuh kurus kering. Mamat Jago melucuti seluruh pakaian basah dari tubuh Sarti dan menyelimutinya dengan kain batik yang dulu pernah dipakai untuk menyelimuti mayat istrinya. Dipandangi wajah Sarti yang tertidur pulas. Dalam keremangan wajah itu berganti-ganti dengan wajah istrinya.

  

 "Pacarku, biniku…."

  

                Dikecupnya bibir Sarti. Bibir itu terasa bergerak. Balas melumat. Tangannya perlahan mendekap. Napasnya mulai satu-dua. Hangat, panas, gemuruh. Mamat Jago mendekapnya lebih erat lagi. Kini kehangatan menjalari tubuh mereka berdua. Dalam sekejap mereka telah bergumul. Memagut-mematuk-mengecup-merenggut- mencakar-mengular…terbakar. Tiba-tiba, brak! Mamat Jago kaget dan melepaskan pelukannya. Eng Djin, si gondrong, dan si cepak sudah berdiri di pelangkahan pintu. Buru-buru Mamat Jago meraih dan mengenakan celana kolornya.

  

 "Sadarlah, Bang. Sarti sudah mati," kata Eng Djin.

  

            Mamat Jago menoleh. Sarti terbaring telanjang kaku dengan sisa-sisa keringat yang meleleh di sela-sela payudaranya. Tak percaya Mamat Jago menepuk-nepuk pipi Sarti. "Ayo, manis…bangun. Ada Koh Eng Djin dan teman abang datang," bisiknya ke telinga Sarti.

  

 "Relakan kepergiannya… Nyebut, Bang."

  

              Mamat Jago masih tak percaya. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Sarti. Kaku, dingin, biru seperti keramik Cina. Tangisan pilu meledak dari mulutnya. Eng Djin tertegun menyaksikan lelaki malang itu. Tanpa buang waktu si gondrong dan si cepak langsung membekuk Mamat Jago. Dengan mudah mereka menggelandang Mamat Jago dan memasukkannya ke mobil jip.

  

            Sepanjang jalan kedua polisi yang diakui sebagai temannya itu tak mencoba mengajaknya bicara. Semuanya membisu. Pikiran Mamat Jago kembali pada Sarti. Benarkan Sarti sudah mati? Mungkinkah aku menyenggamai mayat, ia membatin. Bukankah barusan Sarti membalas kecupan dan pelukannya dan mereka bergumul hebat seperti di malam-malam dulu?

  

 "Keluar lu!" Bentakan si gondrong membuatnya ternganga. Mamat Jago tak punya lagi kuasa untuk menolak.

  

             Si gondrong dan si cepak menggiringnya ke sebuah tempat gelap. Kakinya menjejak pasir. Ada debur ombak. Kersik daun. Serbuk garam yang menempeli bibirnya. Ia menduga-duga pantai apa ini. Mungkin Tanjung Kait, Rawa Saban, Kamal, atau pantai yang belum pernah ia kunjungi. Dorongan keras membuatnya tersandung akar bakau dan tersungkur. Butiran pasir asin memenuhi mulutnya.

  

            "Sejujurnya, Mat, kami tidak pernah benar-benar berteman denganmu. Tugas kami adalah membasmi orang-orang yang meresahkan masyarakat semacam kau. Dan kau sudah terlalu sering melakukannya. Malam ini kami akan membuat hidupmu tamat," suara si cepak mengalahkan deru ombak.

  

 Dor! Dor! Dor!

  

           Mamat Jago mengusap kepalanya. Tak ada darah. Hanya air hujan! "Mimpi apa lagi ini?" katanya, heran. Ia bangkit dan duduk di tepi balai bambu. Ditajamkan pendengarannya, rentetan tembakan itu masih terdengar. Ah, ia tersenyum, rupanya hanya suara petasan dari rumah kawin! Ia keluar. Hujan sudah mulai berhenti, tetapi air masih menggenang di pelataran rumahnya. Begitu juga kenangannya pada Sarti, Eng Djin, si cepak, dan si gondrong yang barusan hadir dalam mimpinya. Dan Sarti! Mengapa kau muncul dalam mimpiku dengan cara seaneh itu, ia membatin lagi. Lama ia menafsir-nafsir makna mimpinya itu.

  

 "Ya, aku harus kembali ke rumah kawin itu." Ia pun mengetuk-ngetukkan tumit kanannya ke lantai teraso, tiga kali. Hatinya mantap. "Aku harus dapatkan lagi Sartiku, kesenangan, dan kehormatanku.

  

 Kembangan Selatan, Desember 2002

  

 CATATAN:

  

 COKEK: Tari pergaulan masyarakat Betawi peranakan Cina.

  

 WAYANG (Cokek): penari Cokek

  

 PANJAK: pemain musik Gambang Kromong, pengiring Cokek.

  

 CUKIN: selendang untuk menarik para pengibing

  

 NGIBING: menari

  

 KALANGAN: tempat ngibing

  

 TEH yan Betawi: instrumen gesek tradisional berdawai dua.